Banjarbaru – Pemprov Kalsel menargetkan pengolahan 850 hektare lahan pertanian dalam waktu satu pekan sebagai langkah konkret mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan yang berpotensi memicu kebakaran dan berdekatan dengan bandara.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel, Syamsir Rahman, mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla pada KSPEAN Kalsel di Banjarbaru, Sabtu (10/10/2026).
Syamsir mengungkapkan, berdasarkan hasil identifikasi, terdapat sekitar 850 hektare lahan pertanian yang belum terbakar, baik lahan yang telah selesai panen maupun yang belum dipanen.
Lahan tersebut menjadi perhatian karena sisa tanaman dan kondisi lahan yang tidak segera diolah berpotensi memicu kebakaran.
“Dari 850 hektare itu, secara teknis harus segera ditangani supaya tidak terbakar. Arahan Pak Wamenko, lahan ini harus segera dibalik tanahnya dan dibersihkan,” ujarnya.
Untuk mempercepat penanganan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel menyiapkan alat dan mengerahkan petugas penyuluh pertanian guna mengawal pelaksanaan pengolahan lahan di lapangan.
Peralatan yang disiapkan meliputi sekitar 20 unit traktor roda empat dan 15 unit alat pengolah lahan lainnya. Pekerjaan dijadwalkan mulai Minggu (11/10/2026) pukul 07.00 WITA di sejumlah titik, dengan pengawasan penyuluh pertanian di masing-masing wilayah.
Ia memperkirakan, untuk menuntaskan pengolahan 850 hektare dalam sepekan, diperlukan capaian lebih dari 100 hektare per hari.
“Oleh karena itu, pengerjaan akan dilakukan secara serentak dan bertahap dengan melibatkan petugas serta dukungan peralatan yang tersedia,” ungkapnya
Menurutnya, pengolahan lahan tidak hanya menjadi bagian dari upaya pencegahan karhutla, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi petani.
Lahan yang dibersihkan dan dibalik lebih awal akan memudahkan proses pengolahan lanjutan ketika air tersedia, sehingga petani dapat mempersiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya.
“Ini juga memberikan keuntungan bagi petani. Di tengah upaya mencegah karhutla, mereka mendapatkan dukungan pengolahan lahan sehingga nantinya bisa lebih siap untuk menanam kembali,” jelasnya.
Ia menegaskan, langkah tersebut diarahkan untuk menekan potensi kebakaran lahan pertanian, khususnya di kawasan yang menjadi perhatian karena kedekatannya dengan bandara.
Penanganan dilakukan melalui pengolahan lahan tanpa pembakaran, disertai pengawasan agar kegiatan berjalan sesuai target.
Ia mengimbau petani agar tidak membakar lahan dalam proses pembersihan maupun persiapan tanam.
Bagi petani yang masih melakukan panen, ia meminta penggunaan mesin pemanen kombinasi atau combine harvester dengan pemotongan tanaman serendah mungkin.
Menurutnya, pemotongan tanaman hingga bagian bawah dapat membantu mengurangi sisa tanaman yang berpotensi menjadi bahan bakar kebakaran.
Petani yang belum memiliki akses terhadap alat panen diminta melaporkannya kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel agar dapat dibantu.
Terkait kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional peralatan, Syamsir menyampaikan bahwa dukungan pembiayaan dan fasilitasi akan dikoordinasikan bersama pemerintah, termasuk kementerian terkait.
Melalui percepatan pengolahan 850 hektare lahan tersebut, Pemprov Kalsel mendorong penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api muncul, tetapi juga pada pencegahan sejak dini melalui penataan lahan pertanian, pengerahan alat, dan pendampingan langsung kepada petani. [tgh|mc]
