Banjarmasin – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel terus memperkuat komitmen dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang inklusif bagi seluruh masyarakat. Hal tersebut diwujudkan melalui Workshop Bahasa Isyarat dan Disabilitas Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2026 yang digelar di Banjarmasin, Rabu (15/7/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Diauddin, mengatakan workshop tersebut bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan bentuk komitmen bersama untuk memastikan setiap warga, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh hak atas layanan kesehatan yang layak, inklusif, dan bermartabat.
“Melalui workshop ini, kami ingin memastikan pelayanan kesehatan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan publik yang adil dan merata, termasuk bagi kelompok penyandang disabilitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini bertujuan membekali tenaga kesehatan maupun petugas non-kesehatan dengan keterampilan dasar bahasa isyarat, sekaligus meningkatkan pemahaman tentang pelayanan yang ramah, humanis, dan responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
Menurut Diauddin, penyelenggaraan workshop ini merupakan implementasi amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas serta Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 4 Tahun 2019 yang menjamin hak penyandang disabilitas memperoleh layanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
Ia menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam pelayanan kesehatan, terutama bagi penyandang disabilitas tuli atau gangguan pendengaran.
Penguasaan bahasa isyarat akan membantu tenaga kesehatan memahami kebutuhan pasien secara lebih baik sehingga proses diagnosis, terapi, hingga edukasi kesehatan dapat dilakukan secara optimal.
“Bahasa isyarat menjadi jembatan komunikasi yang sangat penting agar pelayanan kesehatan dapat diberikan secara tepat, efektif, dan penuh empati kepada penyandang disabilitas,” katanya.
Diauddin berharap seluruh peserta memanfaatkan workshop tersebut untuk menyerap ilmu dari para narasumber dan menerapkannya di lingkungan kerja masing-masing.
Ia juga mengajak peserta menjadi pelopor dalam mewujudkan layanan kesehatan yang ramah disabilitas di seluruh fasilitas kesehatan di Kalimantan Selatan.
“Diharapkan melalui workshop ini lahir tenaga kesehatan yang mampu memberikan pelayanan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan humanis sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas di Banua,” pungkasnya. [scw|mc]
