Banjarmasin – Tren dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di Kalimantan Selatan (Kalsel) kian menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat.
Selain memicu peningkatan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan kabut asap, terbatasnya ketersediaan air bersih turut meningkatkan risiko penyakit diare.
Direktur RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Provinsi Kalsel, dr. Tabiun Huda, mengungkapkan tren peningkatan kasus ISPA dan pneumonia mulai terlihat sejak September 2026.
Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan masyarakat sekaligus kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi dampak karhutla dan kekeringan.
“Mulai September kemarin kasus terus meningkat. Kalau melihat tren penyakit yang datang, baik rawat jalan maupun rawat inap, peningkatannya mencapai sekitar 40 hingga 50 persen,” ujar Tabiun, Senin (19/10/2026).
Ia mengatakan berdasarkan data RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh, sepanjang Januari hingga 13 Oktober 2026 tercatat 401 kasus ISPA dan 427 kasus pneumonia.
Dari jumlah kasus pneumonia tersebut, sebanyak 192 pasien harus menjalani rawat inap, terdiri atas 123 anak-anak dan 69 orang dewasa.
Kelompok anak menjadi salah satu yang paling rentan terhadap gangguan pernapasan akibat paparan asap karhutla. Pada September, kasus ISPA mencapai 77 kasus, dengan 70 pasien di antaranya merupakan anak-anak di bawah usia 18 tahun.
Ancaman kesehatan juga terlihat pada kasus diare yang berkaitan dengan persoalan ketersediaan air bersih dan kebersihan lingkungan selama musim kemarau.
“Berdasarkan pembaruan data yang disampaikan Direktur RSUD Ansari Saleh pada 18 Oktober 2026, jumlah kasus diare mencapai 478 kasus, terdiri atas 130 pasien rawat jalan dan 348 pasien rawat inap,” terangnya.
Angka tersebut menunjukkan besarnya beban pelayanan kesehatan yang harus ditangani, terutama pada pasien diare yang berisiko mengalami dehidrasi hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Sebelumnya, data periode Januari hingga 13 Oktober mencatat 467 kasus diare, dengan 341 pasien menjalani rawat inap.
Lebih lanjut, Tabiun menjelaskan, peningkatan penyakit pernapasan dan diare perlu diwaspadai secara bersamaan karena kondisi lingkungan turut memengaruhi risiko kesehatan masyarakat.
“Paparan asap dapat memperburuk gangguan pernapasan, sedangkan keterbatasan air bersih berpotensi menghambat pemenuhan kebutuhan air minum dan sanitasi yang layak,” ungkapnya.
Menghadapi kondisi tersebut, manajemen RSUD Ansari Saleh memastikan kesiapan pelayanan bagi masyarakat terdampak karhutla.
Sebagai rumah sakit rujukan untuk penanganan penyakit infeksi, pihaknya telah menyiapkan fasilitas, dokter, tenaga medis, serta tenaga kesehatan lainnya untuk menangani pasien ISPA, pneumonia, dan penyakit terkait lainnya.
“Kami sebagai fasilitas kesehatan milik provinsi siap menangani dampak karhutla. Tenaga medis dan fasilitas pendukung sudah kami persiapkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.
Di sisi lain, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap menebal, menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas di luar rumah, serta menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
“Anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih karena berisiko mengalami dampak kesehatan yang lebih berat,” ujarnya.
Untuk mencegah diare, masyarakat diminta memastikan air minum telah dimasak hingga mendidih, menyimpan makanan dan air dalam wadah tertutup, serta membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
Ketersediaan air bersih dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan penyakit di tengah kekeringan.
Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul. Sesak napas, napas cepat, demam tinggi, diare terus-menerus, muntah berulang, serta tanda dehidrasi seperti lemas berat dan mata cekung, terutama pada bayi dan anak-anak, perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Peningkatan kasus ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla dan kekeringan tidak hanya menyangkut pengendalian api serta dampak lingkungan, tetapi juga perlindungan kesehatan masyarakat.
Kesiapan layanan kesehatan perlu diiringi upaya pencegahan dan pemenuhan kebutuhan air bersih agar risiko penyakit tidak semakin meluas. [tgh|mc]
