Banjarmasin – Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Gusti Hasan Aman Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat kompetensi dan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pelayanan sekaligus mempersiapkan pelaksanaan akreditasi rumah sakit.
Upaya tersebut dilakukan melalui Workshop Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dengan materi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di lingkungan rumah sakit. Kegiatan ini diikuti oleh tenaga medis dan nonmedis dan berlangsung di RSGM Gusti Hasan Aman, Senin (28/9/2026).
Direktur RSGM Gusti Hasan Aman Kalsel, drg. Mashuda, mengatakan pengembangan kompetensi pegawai menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh sumber daya manusia memiliki pemahaman dan kemampuan yang sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
Menurutnya, kegiatan diklat tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kompetensi pegawai, tetapi juga menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan tenaga medis dalam memperoleh Satuan Kredit Profesi (SKP) yang diperlukan untuk pengembangan profesionalisme.
“Akreditasi itu tidak hanya akreditasi rumah sakit dan pendidikan, tetapi ada juga akreditasi pendidikan dan pelatihan. Ini penting karena tenaga medis membutuhkan pendidikan dan pelatihan atau workshop yang memiliki SKP Kementerian Kesehatan untuk memenuhi persyaratan dalam memperpanjang Surat Izin Praktik,” ujar Mashuda.
Ia menjelaskan, workshop yang dilaksanakan kali ini menjadi salah satu langkah awal RSGM Gusti Hasan Aman dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan yang dapat memberikan SKP Kementerian Kesehatan bagi peserta.
Selain bermanfaat bagi tenaga medis, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan kompetensi bagi tenaga nonmedis.
Mashuda menyebut, pengembangan kompetensi pegawai secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menjaga mutu dan standar pelayanan rumah sakit.
“Tidak hanya tenaga medis, tenaga nonmedis juga perlu mendapatkan pengembangan kompetensi. Standarnya, setiap pegawai memiliki kebutuhan pengembangan kompetensi sebanyak 20 jam pelajaran dalam satu tahun,” jelasnya.
Sementara itu, materi PPI dipilih karena aspek pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan bagian yang sangat penting dalam operasional rumah sakit.
Pemahaman mengenai PPI diperlukan tidak hanya oleh tenaga medis yang berhadapan langsung dengan pasien, tetapi juga seluruh pegawai yang bekerja di lingkungan rumah sakit.
Mashuda menuturkan, melalui workshop tersebut para pegawai diharapkan memahami langkah-langkah pencegahan infeksi, termasuk penerapan kebersihan tangan serta tindakan yang tepat ketika berkontak dengan cairan tubuh, darah, maupun sumber potensi penularan lainnya.
“Harapannya tidak hanya staf medis, tetapi seluruh pegawai bisa memahami bagaimana melindungi dirinya sendiri. Misalnya, bagaimana cara mencuci tangan yang baik dan bagaimana ketika sudah berkontak dengan cairan tubuh atau darah. Ini penting karena bekerja di rumah sakit tentu berbeda dengan bekerja di lingkungan perkantoran atau dinas,” katanya.
Dalam pelaksanaan workshop perdana tersebut, RSGM Gusti Hasan Aman juga memperoleh pendampingan dari Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Kalimantan Selatan.
Pendampingan tersebut menjadi bagian dari proses awal RSGM dalam mempersiapkan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan secara mandiri.
Mashuda menyampaikan apresiasi kepada Bapelkes Kalsel atas dukungan dan pendampingan yang diberikan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, untuk pertama kali RSGM mendapatkan bantuan dari Bapelkes Provinsi Kalimantan Selatan. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Bapelkes yang telah membantu kelancaran kegiatan ini,” tuturnya.
Workshop PPI tersebut berlangsung hingga sore hari dengan bobot sekitar 10 jam pelajaran. Materi diberikan secara menyeluruh untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi, baik bagi tenaga medis maupun tenaga nonmedis.
Lebih lanjut, Mashuda mengungkapkan bahwa RSGM Gusti Hasan Aman tengah mempersiapkan pengembangan bidang pendidikan dan pelatihan agar ke depan mampu menyelenggarakan workshop secara mandiri dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Menurutnya, bidang diklat RSGM nantinya diarahkan untuk memperoleh akreditasi dari Kementerian Kesehatan.
Dengan demikian, RSGM Gusti Hasan Aman diharapkan dapat memiliki sistem penyelenggaraan diklat yang terakreditasi dan terintegrasi dengan platform SatuSehat.
“Harapannya nanti kami bisa memiliki SatuSehat secara mandiri dan melaksanakan workshop yang memiliki SKP Kementerian Kesehatan tanpa harus bergantung kepada pihak lain,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan bidang diklat di RSGM Gusti Hasan Aman nantinya akan memiliki kekhususan pada bidang pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
Pelatihan juga dapat dikembangkan untuk berbagai kompetensi dokter spesialis maupun tenaga kesehatan lainnya yang berkaitan dengan pelayanan gigi dan mulut.
“Kalau Bapelkes memiliki cakupan pelatihan yang lebih luas, kami akan berfokus pada pelayanan gigi dan mulut, termasuk pelatihan yang berkaitan dengan dokter spesialis dan kompetensi lainnya yang mendukung pelayanan gigi,” ungkapnya.
Mashuda berharap penguatan bidang pendidikan dan pelatihan tersebut dapat mendukung peningkatan kualitas SDM RSGM Gusti Hasan Aman secara berkelanjutan.
Selain meningkatkan kompetensi, kegiatan diklat juga diharapkan mampu membangun kepatuhan pegawai terhadap standar pelayanan dan keselamatan kerja di lingkungan rumah sakit. [dam|mc]
