Kandangan – Dibalik keindahan bentang alamnya, Situs Batu Gamping Batu Laki dalam kawasan Meratus UNESCO Global Geopark menyimpan potensi biodiversitas yang menarik untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata berbasis alam dan edukasi konservasi.
Salah satu satwa yang menjadi perhatian adalah bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik Kalimantan yang juga menjadi maskot Provinsi Kalimantan Selatan.
Berdasarkan pengamatan Jayusman bersama tim pada sore hari, bekantan bersama sejumlah jenis primata lainnya, seperti monyet ekor panjang dan lutung kelabu, relatif mudah ditemukan di kawasan tepian sungai Batu Laki.
“Pada sore hari, bekantan, monyet ekor panjang, dan lutung kelabu relatif mudah ditemukan di tepian sungai. Bagi bekantan, kawasan tepian sungai dengan vegetasi yang masih tersedia merupakan bagian penting dari habitat alaminya. Keberadaan bekantan di kawasan ini menunjukkan bahwa Batu Laki masih menyediakan ruang hidup bagi satwa tersebut,” ujar Jayusman di Hulu Sungai Selatan, Rabu (30/9/2026).
Keberadaan bekantan di tepian sungai memiliki keterkaitan erat dengan kondisi habitatnya. Vegetasi yang masih tersedia, sumber pakan, serta kedekatan dengan badan air menjadi bagian penting dalam mendukung ruang hidup satwa tersebut.
Kondisi tersebut membuat kawasan tepian sungai Batu Laki tidak hanya memiliki nilai sebagai lanskap wisata, tetapi juga memiliki fungsi ekologis sebagai ruang hidup berbagai jenis satwa.

Keberadaan bekantan dan satwa lainnya juga terdeteksi melalui pemantauan menggunakan drone. Temuan tersebut kemudian diperkuat melalui pengamatan lapangan oleh tim bersama biologist Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark.
Potensi tersebut membuka peluang bagi pengembangan wisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman edukatif mengenai biodiversitas dan pentingnya menjaga habitat satwa.
Lanting Berpotensi Jadi Titik Pengamatan
Menariknya, keberadaan lanting wisata di Batu Laki dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis biodiversitas.
Muhammad Fredly Andri, Desain Grafis Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, mengatakan lanting dapat dimanfaatkan sebagai ruang bagi pengunjung untuk mengamati dan mendokumentasikan satwa dari jarak tertentu.
“Adanya lanting memudahkan pengunjung untuk mengamati dan mendokumentasikan satwa dari jarak tertentu, sehingga aktivitas pengamatan dapat dilakukan tanpa harus mendekati atau mengganggu habitat satwa,” ujarnya.
Posisi lanting yang berada di kawasan sungai memungkinkan pengunjung mengamati kondisi sekitar tanpa harus memasuki habitat satwa secara langsung.

Konsep tersebut dapat mempertemukan tiga aspek sekaligus, yakni wisata, edukasi, dan konservasi. Pengunjung tidak hanya menikmati panorama Batu Laki, tetapi juga dapat mengenal berbagai jenis satwa yang hidup di kawasan tersebut.
Namun, aktivitas pengamatan tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan perilaku satwa. Jarak pengamatan, suara, pergerakan pengunjung, hingga aktivitas dokumentasi perlu dikendalikan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan alami satwa.
Keberadaan bekantan di kawasan Batu Laki sekaligus memperlihatkan pentingnya menjaga vegetasi dan kualitas lingkungan di sepanjang tepian sungai. Kelestarian habitat menjadi faktor penting agar satwa dapat terus hidup dan berkembang secara alami.
Bagi Meratus UNESCO Global Geopark, potensi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menghubungkan kekayaan geologi dan biodiversitas dengan kegiatan edukasi serta wisata berkelanjutan.
Batu Laki pada akhirnya tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara sungai, vegetasi, satwa, dan aktivitas manusia dalam satu lanskap.
Melalui pengelolaan yang memperhatikan daya dukung lingkungan, kawasan ini memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ruang wisata alam dan edukasi konservasi, dengan tetap menempatkan perlindungan habitat sebagai prioritas. [dam|mc]
