“Misalnya warga sudah punya kebun kelapa sawit dan karet. Disekitarnya apabila ada lahan kosong bisa tanam padi dan palawija,” usulnya.
Karena, sambungnya, hasilnya bisa memberikan nilai ekonomi. “Jadi tambah pemasukan,” imbuhnya.
Selain pertanian, terangnya, sektor perikanan dan peternakan juga cukup menjanjikan. “Tempatkan sapi misalnya ditengah perkebunan sawit atau karet. Rumput yang tumbuh disekitarnya menjadi pakan ternak,” bebernya.
Wabup bahkan mengaku, dirinya juga diwaktu senggang menyempatkan diri berkebun sayur dan buah. Memanfaatkan lahan tak produktif yang dimilikinya.
“Saya kalau pulang dari kantor langsung ambil pacul. Saya cangkul lahan belakang rumah sambil nanam sayuran. Jadi gak perlu beli untuk kebutuhan di rumah,” jelasnya memotivasi masyarakat.

Begitu juga, katanya, apabila masyarakat punya sawah dan palawija. Tak perlu lagi beli beras dan sayur mayur. “Hasil kebun sawit dan karet ditabung,” ujarnya.
Motivasi ini disambut antusias masyarakat dan perangkat desa. Mereka sangat gembira mendapatkan wejangan berharga yang penuh harapan bisa di implementasikan.
Namun ditengah diskusi dan dialog, sejumlah aspirasi dan keluhan mengemuka. Diantara keluhan warga tentang masih ada infrastruktur seperti akses jalan yang rusak.
