Perkuat Kolaborasi Stakeholder Sawit Ala Borneo Palm Oil Forum IV

  • Bagikan

Banjarmasin, lenterabanua.com – Industri perkebunan sawit menjadi andalan perekonomian Indonesia dan daerah. Kemampuan ini tidak terbantahkan di tengah pandemi Covid-19 yang belum reda.

Keunggulan dan daya tahan sawit ini diulas mendalam di acara Borneo Palm Oil Forum ke-4 yang berlangsung 15-16 Desember 2021 di Hotel Rattan Inn, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Deputi Menko Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian RI, Dr Musdhalifah Machmud, membuka kegiatan ini mewakili Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian RI.

Dalam sambutannya, Musdhalifah mengapresiasi penyelenggaraan Borneo Palm Oil Forum ke-4 yang bertemakan “Meningkatkan Kolaborasi Pemerintah dan Pelaku Usaha Dalam Rangka Mewujudkan Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan Dalam Kondisi Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Selatan.

Dijelaskan Musdhalifah bahwa kelapa sawit menjadi salah satu komoditas pertanian yang mampu bertahan dalam pandemi Covid-19 dan memberikan sumbangan positif dalam perekonomian nasional.

Dunia industri kelapa sawit nasional menciptakan lapangan kerja untuk lebih dari 16 juta tenaga kerja (baik secara langsung maupun tidak langsung), menyumbang 15,6% dari total ekspor non migas Indonesia per tahun 2020, dari sisi statistik perekonomian berkontribusi 3,5% terhadap PDB, sehingga sektor kelapa sawit menjadi backbone bagi perekonomian nasional.

Disampaikannya, Kemenko Perekonomian akan terus memberikan dukungan kepada perkebunan rakyat dan pelaku usaha industri kelapa sawit nasional.

“Berharap dapat terwujudnya kolaborasi yang lebih baik, solid dan komitmen optimal antar stakeholder komoditas kelapa sawit, untuk mewujudkan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan sebagai tanggung jawab bersama dengan meningkatkan kinerjanya, produktivitas, dan kualitasnya,” ujarnya.

Ketua Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) Pusat, Joko Supriyono,menyebutkan kinerja sawit nasional cukup baik dan selama pandemi pertumbuhan produksi dan ekspor tidak terganggu.Kinerja ini juga dilihat dengan kontribusi 3,5 persen terhadap PDB nasional, ditambah dengan kontribusi 13,5 persen terhadap rata-rata ekspor non migas.

Industri sawit Indonesia, katanya, tumbuh positif dan tetap tangguh di masa pandemi. Meskipun begitu industri ini tetap harus selalu membangun sinergitas dan kolaborasi.

“Komitmen kita adalah kelapa sawit berkelanjutan memberikan peranan penting dalam perekonomian Indonesia,” kata Joko Supriyono.

Dalam rangka meningkatkan industri sawit berkelanjutan, menurutnya, telah dilakukan usaha-usaha membangun kolaborasi yang terus menerus antara pelaku usaha baik di daerah, provinsi maupun kabupaten.

Salah satunya terkait bagaimana mendorong iklim yang kondusif baik regulasi maupun investasinya.

“Melalui Borneo Palm Oil inilah kita bangun terus menerus kolaborasi dan sinergitas. Sesuai tujuan dari forum ini bagaimana upaya merumuskan solusi yang bisa direkomendasikan untuk ditindak lanjuti secara bersama oleh para pemangku kepentingan industri kelapa sawit,” jelas Joko Supriyono.

Hal itu disampaikan Joko dalam jumpa pers yang didampingi Tofan Mahdi, Ketua Bidang Komunikasi GAPKI dan Drh Hj Suparmi MS, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan.

Kolaborasi dan sinergi ini bisa dilihat di Kalimantan Selatan, yang selama ini dikenal sangat baik hubungan dan koordinasi antara pelaku usaha dan pemerintah.

Industri kelapa sawit di Kalimantan Selatan tumbuh dengan baik. Kinerja ekspor sawit telah menghantarkan Kalimantan Selatan memperoleh penghargaan Juara I Ekspor Komoditas Pertanian tingkat nasional.

Sahbirin Noor, Gubernur Kalimantan Selatan, mengakui besarnya kontribusi sektor perkebunan kelapa sawit di Kalsel yang menempati penyumbang devisa nomor dua setelah sektor tambang. Total produksi CPO di provinsi beribukota Banjarmasin ini mencapai 1,1 juta ton.

Total luas area perkebunan kelapa sawit di Kalsel mencapai 426.475 hektar yang terdiri dari perusahaan besar swasta seluas 313.545 hektar.

Selanjutnya perusahaan besar seluas 6.489 hektar dan sebanyak 106.441 hektar diusahakan oleh perkebunan rakyat.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, Hj Suparmi menjelaskan bahwa forum ini memang untuk menciptakan terjadinya kolaborasi antar pemerintah dengan pelaku usaha.

“Pelaku usaha merupakan kekuatan bagi Pemerintah Daerah untuk membangun perekonomian di Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Kegiatan Borneo Palm Oil Forum berlangsung secara hybrid. Tidak hanya seminar, kegiatan ini juga menampilkan pameran produk kelapa sawit. *ril

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x