Naik Katinting, Didik Rela Menyusur Laut Demi Durian ‘Sungkai’

Tanah Bumbu, lenterabanua.com – Musim durian memang menjadi fenomena tersendiri bagi penikmatnya. Betapa tidak, apapun dilakukan seseorang demi melahap tumbuhan tropis yang banyak tumbuh di wilayah Asia Tenggara ini, termasuk di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Sebut saja Didik, seorang anggota polisi yang bermukim di kawasan Plajau, Kecamatan Simpang Empat ini. Ia sangat menyukai buah yang populer dengan sebutan raja dari segala buah (King of Fruit). Sejak kecil ia sudah mencicipi nyaris semua jenis buah yang juga familiar dinamakan duren ini.

Bacaan Lainnya

Tapi ada satu jenis yang paling dicari dan di incarnya, yakni Durian “Sungkai“. Pohonnya tumbuh disatu kawasan terisolir dari daratan Bumi Bersujud, dan hanya bisa dijangkau dengan menggunakan moda transportasi laut.

Naik Katinting menyusuri Selat Pulau Laut menuju Pulau Burung berburu durian.

Yakni tumbuh kokoh di Pulau Panjang, atau sekarang lebih dikenal dengan destinasi wisatanya Pulau Burung, masuk administrasi Kecamatan Simpang Empat. Dinamakan durian Sungkai oleh pemiliknya, dengan alasan tertentu.

Demi durian “Sungkai”, selama bermukim di Kabupaten Tanah Bumbu, sejak pertama kali mencicipinya beberapa tahun lalu, Didik tak pernah absen memborong buah yang memiliki nama latin durio zibethinus ini setiap musimnya tiba.

Tak terkecuali tahun ini, ia mulai mengincarnya, walaupun pohonnya baru beberapa hari belakangan panen. Seperti yang dilakukannya, Sabtu (11/9/2021) siang tadi, Didik rela menyusuri perairan Selat Pulau Laut menumpang Katinting warga Batulicin, menyambangi Pulau Burung.

Didik mengambil langsung durian jatuh di kebun Bambang di Pulau Burung.

Tujuannya hanya satu, berburu Durian Sungkai. Bak gayung bersambut, mengajak beberapa rekannya, Didik akhirnya bisa menikmati lezatnya buah yang menjadi idolanya tersebut.

Ia mengaku, sudah menjadi rutinitasnya berwisata durian di pulau yang hanya dihuni 98 KK itu. Alasannya menyukai Durian Sungkai, karena sesuai dengan selera lidahnya.

“Sejak pertama mencicipi, durian ini pas di lidah saya. Selain manis ada pahit-pahitnya, teksturnya juga mirip mantega (margarin),” ucapnya sembari menelan satu persatu Durian Sungkai yang dipungutnya langsung setelah jatuh dari pohonnya.

Mencicipi langsung Durian ‘Sungkai’ sembari bersantai ditenda yang dibangun pemilik kebun.

Baginya, setiap orang punya cara tersendiri memilih buah berkulit keras dan berduri ini. Termasuk dirinya, yang sudah melalang buana berburu duren ini diberbagai daerah. Tapi ia kepincut dengan yang satu ini. Tapi bukan berarti ia tidak menyukai jenis lain, hanya tak lengkap rasanya jika saat musim tanpa Durian Sungkai.

“Rasanya maknyos, sulit digambarkan secara gamblang. Karena lidah orang beda-beda. Bagi saya ini yang mantap,” tuturnya.

Meski mengidolakan Durian Sungkai, ia tetap lahap menyantap jenis lainnya, yang juga tumbuh dilahan yang sama di Pulau Burung.

Durian ‘Sungkai’ yang masih menggantung diranting pohon. Peminat terpaksa sabar menunggu jatuh.

Bahkan Didik sudah pesan hasil panen durian ditempat itu untuk 3 hari berturut-turut, dari Kamis – Sabtu pekan depan. Rencananya ia akan mengajak keluarganya besarnya berwisata durian ke tempat yang sama, akhir pekan nanti.

“Saya pesan lagi ya, pas jatuh di hari Kamis sampai Sabtu. Nanti Minggu depan saya kesini lagi ngajak keluarga,” ucapnya kepada sang pemilik kebun.

Sementara pemilik pohon Durian Sungkai, Bambang mengaku, kebun yang ditawarkannya itu milik mertuanya. Tapi 10 tahun belakangan diserahkan kepadanya untuk dikelola saat panen. Diatas kebunnya tersebut ada 7 pohon durian, masing-masing punya nama unik.

Pemilik kebun Durian ‘Sungkai’, Bambang memiliki 7 pohon di Pulau Burung.

“Tapi yang biasa paling di incar Durian Sungkai dan Sabut. Keduanya memiliki bentuk dan rasa yang berbeda, tapi sama-sama enak,” katanya sembari promosi.

Disebutkannya, pohon miliknya hanya berbuah setahun sekali. Setiap pohon rata-rata bisa menghasilkan hingga 700 buah. Namun kali ini agak sedikit berbeda, buahnya diperkirakan ya lebih banyak.

“Saya jual dengan harga Rp 40 ribu per biji. Tapi kalau borongan bisa dinegosiasikan,” imbuhnya.

Tenda dibangun untuk memberikan kenyamanan bagi pelanggan untuk menikmati durian.

Bambang mengaku, durian miliknya memang menjadi incaran warga Simpang Empat dan Batulicin, Tanah Bumbu. Termasuk Didik, yang sudah lama menjadi pelanggan setianya setiap panen. Ia acap kali ke Pulau Burung, untuk memborong.

“Kalau dihitung, hasilnya setiap pohon bisa meraup penjualan Rp 2 juta. Kalikan saja ada 7 pohon. Tapi panennya hanya satu kali setahun,” tandasnya.

Ditambahkannya, untuk memudahkan dan memberikan kenyamanan bagi pelanggan saat mencicipi buah durian, ia membangun sebuah pondok sederhana. Jika malam digunakan untuk menunggu durian jatuh dari pohonnya.

Pintu gerbang masuk ke destinasi Pulau Burung yang menawarkan wisata mangrove dan berburu buah.

Terpisah, motoris Katinting, H Rizal mengaku kerap mengantar orang yang berburu durian ke Pulau Burung. Ia mendapat jasa tumpangan baik perorangan maupun rombongan.

“Jika satu orang tarifnya Rp 30 ribu pulang pergi. Tapi kalau carteran Rp 200 ribu maksimal 8 penumpang,” ujarnya.

Dikatakannya, ia perahu motornya berangkat dari dermaga Pos Lanal Batulicin. Tapi jika negosiasi bisa dijemput di sekitaran dermaga di Kecamatan Batulicin dan Simpang Empat.

H Rizal, motoris katinting yang siap mengantar wisatawan ke Pulau Burung dengan tarif terjangkau.

“Bisa diatur, asal tidak jauh dari sekitaran kota,” ungkapnya.

Selain berburu durian, diluar musim buah Rizal juga melayani para wisatawan yang akan bertamasya ke wisata mangrove Pulau Burung, dengan tarif yang sama.

“Biasanya akhir pekan, seperti Sabtu dan Minggu pasti ada carteran ke Pulau Burung,” pungkasnya.

Persimpangan di Pulau Burung menuju kebun durian masyarakat setempat.

Diketahui, Pulau Burung selain memiliki wisata buah, juga saat ini sedang mengembangkan destinasi alam. Yakni mangrove dan wisata pesisir. Belakangan objek wisata ini mulai populer hingga ke mancanegara. Sedangkan bagi pelancong lokal, tempat ini sudah sangat familiar.

Nah, bagi anda yang kebetulan berada di Kabupaten Tanah Bumbu, jangan lewatkan destinasi ini. Saat musim buah, bisa sekalian mencicipi berbagai tumbuhan yang ada dilokasi ini. Meski terisolir dari daratan, destinasi ini tetap bisa dijangkau dengan moda transportasi laut, dengan tarif yang cukup terjangkau. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *