Kehadiran Mall Dinilai Belum Mendesak, Pemkab Inginkan Sistem BOT

Foto : Courtesy YouTube Bajalanan

Tanah Bumbu, lenterabanua.com – Wacana pembangunan mall di Kabupaten Tanah Bumbu tak berjalan mulus. Pasalnya sejumlah pihak meragukan, keberadaan pusat perbelanjaan modern tersebut mampu bertahan lama, karena dinilai kelayakannya belum memihak.

Sebut saja keraguan Anggota Komite Percepatan Pembangunan Daerah (KPPD) Tanah Bumbu, Anwar Ali Wahab. Menurutnya, saat ini yang paling tepat untuk Kabupaten Tanah Bumbu adalah pembangunan pasar modern, bukan mall.

Bacaan Lainnya

“Belum saatnya kita bangun mall, apalagi bila memaksakan jadi utang dan memberatkan daerah,” katanya, Senin (24/1/2022).

Menurutnya, pembangunan pasar modern lebih cocok, karena ini sangat ideal terutama di kota besar padat pemukiman seperti Simpang Empat dan Sungai Danau.

Karena kehadirannya nantinya akan memberikan keleluasaan yang besar kepada konsumen untuk memilih barang. Baik sisi ukuran, model, harga hingga keutuhan dari barang tersebut. Sehingga pihak konsumen bebas memilih barangnya sendiri sepuas hati.

“Contohnya pasar modern Bauntung Banjarbaru. Pasar modern itu sangat mengakomodir UMKM disekitar,” ungkapnya.

Yang penting, ucapnya, fasilitasnya yang dilengkapi, toiletnya yang bersih. Jika perlu pasar modern nantinya dilengkapi toilet premium seperti pasar modern yang ada di Bumi Serpong Damai.

“Nah di Gunung tinggi mendesak dibangun pasar untuk memudahkan ASN dan warga sekitar berbelanja,” tegasnya.

Agar tidak lagi terjadi kerumunan warga dipinggir jalan di tikungan tempat pasar yg terkesan dadakan seperti yg telah ada.

“ASN yang pulang jam 5 sore dapat berbelanja di pasar gunung tinggi setiap hari lalu kemudian dibawa pulang untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangganya,” tuturnya.

Kehadiran jaringan waralaba ritel yang memiliki pangsa pasar paling luas di Indonesia seperti Indomaret dan Alfamart disekitar perkantoran Gunung Tinggi juga sangat diharapkan masyarakat dan ASN.

Indomaret dan Alfamart ditempat tertentu mungkin bisa mengganggu perekonomian masyarakat sekitar, namun di tempat lain bisnis waralaba tersebut justru ikut memancing pertumbuhan ekonomi disekitarnya.

“Contohnya kawasan perkantoran Gunung Tinggi dan kawasan Pantai Pagatan,” tukasnya.

Dihari yang sama secara terpisah, Kepala Dinas Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Bumbu, H Deny Haryanto, mengatakan tahapan pembahasan pembangunan mall masih berlanjut.

“Masih lanjut dalam pembahasan pihak investor,” katanya kepada awak media.

Saat ini investor berganti, sebab sebelumnya dari penilaian Pemkab jadi piutang jika dilanjutkan. Sementara keinginan Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu sistem BOT (Build Operate Transfer).

“Maunya pemda itu, BOT supaya pemkab tidak jadi beban untuk pengembaliannya,” paparnya.

Dijelaskan Deny, saat ini pemerintah daerah masih sonding ke pihak ketiga agar yang mau dengan sistem yang dihendaki dan tidak jadi piutang.

Diketahui, BOT adalah suatu bentuk kerjasama antara para pihak dimana suatu objek dibangun, dikelola atau dioperasikan selama jangka waktu tertentu lalu diserahkan kepada pemilik asli.

Yakni aset tersebut nantinya bakal menjadi milik pemerintah daerah, setelah konsesinya dimanfaatkan pihak ketiga. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *