Mengabarkan tanpa Mengaburkan

Pemulihan Ekosistem Bekantan Pasca Karhutla Perlu Dikawal

Banjarbaru – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat memberikan dampak terhadap habitat bekantan dalam jangka panjang. Tidak hanya ketika api masih berkobar, gangguan terhadap vegetasi dan ketersediaan sumber pakan juga dapat berlanjut selama proses pemulihan ekosistem.

Founder Sahabat Bekantan Indonesia yang juga Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bidang Biologi Konservasi, Amalia Rezeki, mengatakan bekantan memiliki ketergantungan yang kuat terhadap vegetasi tepian sungai dan kawasan lahan basah.

Menurutnya, dampak karhutla terhadap bekantan dapat terjadi melalui sejumlah mekanisme, mulai dari gangguan kualitas udara akibat asap, kerusakan vegetasi tepian sungai, hingga berkurangnya tutupan pohon yang menjadi bagian dari habitat satwa tersebut.

“Asap dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi mengganggu sistem pernapasan manusia dan satwa. Kita juga perlu memperhatikan kemungkinan perubahan perilaku, misalnya aktivitas makan, beristirahat, atau pergerakan kelompok ketika kondisi lingkungannya terganggu,” ujar Amalia di Banjarbaru, Jumat (18/9/2026).

Namun, ia menegaskan bahwa tingkat gangguan kesehatan pada bekantan di lokasi tertentu tetap perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan pemantauan lapangan.

Selain asap, kebakaran pada vegetasi tepian sungai menjadi perhatian karena kawasan tersebut berfungsi sebagai tempat bekantan mencari makan, berlindung, beristirahat, sekaligus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

[bacajuga berdasarkan="category" mulaipos="1" judul="Baca Juga : "]

Ketika vegetasi mengalami kerusakan, bekantan dapat kehilangan sebagian sumber daya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Dalam kondisi tertentu, kelompok bekantan juga dapat berpindah untuk mencari sumber pakan dan tempat berlindung yang masih tersedia.

“Perpindahan atau migrasi ini tentu perlu kita pantau, karena bisa saja mereka memasuki habitat yang kualitasnya kurang baik atau menghadapi gangguan dari aktivitas manusia,” jelasnya.

Amalia mengatakan dampak kerusakan habitat juga tidak serta-merta berakhir setelah api berhasil dipadamkan.

Vegetasi yang terbakar membutuhkan waktu untuk kembali tumbuh, sedangkan kebutuhan satwa terhadap sumber pakan dan tempat berlindung berlangsung setiap hari.

Karena itu, menurutnya, pemulihan pascakarhutla perlu menjadi bagian dari perhatian konservasi.

Pemantauan dapat mencakup kondisi vegetasi, ketersediaan pakan alami, kualitas habitat, serta keberadaan kelompok bekantan di kawasan terdampak.

Ia mencontohkan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak yang terus mendapat perhatian dari pihaknya, khususnya dalam memantau kondisi habitat, ketersediaan pakan alami, dan perubahan lingkungan.

Meski demikian, Amalia menekankan bahwa penetapan suatu lokasi sebagai terdampak langsung maupun tidak langsung harus didukung hasil pemantauan dan data lapangan.

“Dalam konservasi, kita tidak boleh hanya mengukur keberhasilan dari berhasil atau tidaknya memadamkan api. Kita juga harus melihat apakah habitatnya masih mampu mendukung kehidupan bekantan setelah kebakaran terjadi,” katanya.

Menurutnya, upaya menjaga habitat bekantan juga menjadi bagian dari menjaga ekosistem lahan basah yang memiliki manfaat lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat.

“Ketika kita menjaga vegetasi ekosistem, menjaga kondisi hidrologi, dan mencegah kerusakan habitat, sesungguhnya kita juga sedang menjaga kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut,” pungkasnya. [dam|mc]

Advertisements

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *