Banjarbaru – Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Selatan terus mendorong peningkatan kualitas layanan angkutan umum melalui inovasi tarif terintegrasi Trans Banjarbakula.
Inovasi ini mengusung konsep Inclusive Pricing untuk menghadirkan transportasi publik yang lebih terjangkau, mudah diakses, dan berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan aglomerasi Banjarbakula.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Selatan, M. Fitri Hernadi, mengatakan pengembangan tarif terintegrasi merupakan bagian dari aksi perubahan untuk membangun standar kualitas layanan angkutan perkotaan yang terhubung antarmoda dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Transportasi publik harus semakin mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Melalui tarif terintegrasi, kita ingin menghadirkan perjalanan yang lebih praktis, terjangkau, dan nyaman, sekaligus mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan angkutan umum,” ujarnya.
Menurut Fitri, inovasi tersebut mengintegrasikan layanan Trans Banjarbaru sebagai angkutan pengumpan (feeder), Trans Banjarbakula yang melayani koridor Banjarbaru–Banjarmasin, serta Trans Banjarmasin untuk perjalanan di dalam wilayah perkotaan.
Melalui skema ini, masyarakat dapat melakukan perjalanan antarmoda dengan tarif sebesar Rp5.000 untuk durasi perjalanan hingga 90 menit.
Skema tersebut diharapkan memudahkan penumpang yang harus berpindah layanan tanpa terbebani biaya perjalanan yang berulang.
Selain tarif umum, Dishub Kalsel juga mendorong kebijakan tarif khusus sebesar Rp2.000 bagi kelompok masyarakat tertentu, yakni lansia, penyandang disabilitas, dan pelajar. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses transportasi publik yang inklusif.
“Keberhasilan transportasi publik tidak hanya diukur dari jumlah armada atau rute yang tersedia, tetapi juga dari sejauh mana layanan tersebut dapat dijangkau masyarakat. Karena itu, aspek keterjangkauan dan kemudahan berpindah antarmoda menjadi perhatian dalam pengembangan sistem ini,” jelasnya di Banjarbaru, Jumat (9/10/2026).
Fitri menjelaskan, penerapan tarif terintegrasi membutuhkan kolaborasi lintas pemerintahan dan dukungan sistem pembayaran yang saling terhubung.
Dalam aksi perubahan ini, Dishub Kalsel mendorong kerja sama melalui tiga perjanjian kerja sama (PKS), yaitu antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dengan Pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Kota Banjarbaru, antara Dishub Kalsel dengan Bank Kalsel, serta antara Bank Kalsel dengan PT AINO Indonesia.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung integrasi layanan antarmoda, pembayaran nontunai, serta proses transaksi dan rekonsiliasi yang lebih tertata.
Dari sisi layanan digital, pengembangan aplikasi Banjarbakula Apps juga menjadi bagian penting dalam mendukung mobilitas masyarakat.
Aplikasi ini menyediakan informasi peta layanan, posisi bus secara waktu nyata (real-time), rute, halte, jadwal, serta fasilitas pembayaran digital melalui AKSEL.
Aplikasi tersebut juga dilengkapi fitur pelaporan anomali yang memungkinkan pengguna menyampaikan laporan terkait gangguan pelayanan, termasuk kondisi yang berpotensi mengurangi kenyamanan dan keamanan perjalanan.
“Digitalisasi menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pelayanan. Masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh kemudahan dalam mengakses informasi perjalanan, tetapi juga memiliki saluran untuk menyampaikan laporan apabila menemukan kendala di lapangan,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, inovasi tarif terintegrasi ini didukung delapan tahapan aksi perubahan, mulai dari penguatan komitmen tiga dinas perhubungan, komitmen ekosistem dan fiskal, penyusunan perjanjian kerja sama, standardisasi transaction bus (TOB) dan pembayaran, pemasaran serta edukasi publik, uji coba dan survei pengguna, peluncuran resmi, hingga evaluasi dan pelaporan manfaat.
Berdasarkan materi capaian aksi perubahan, seluruh target dari delapan tahapan tersebut dinyatakan telah dilaksanakan.
Tahapan ini menjadi fondasi untuk memastikan inovasi tidak berhenti pada perencanaan, tetapi dapat diterapkan dan dievaluasi secara berkelanjutan.
Dishub Kalsel juga mengembangkan fitur tarif berlangganan melalui aplikasi AKSEL untuk mendukung kemudahan transaksi dan memberikan alternatif pembayaran bagi pengguna angkutan umum.
Menurut Fitri, evaluasi berkala tetap diperlukan untuk memastikan sistem tarif, mekanisme pembayaran, dan integrasi antarmoda berjalan sesuai kebutuhan pengguna.
Lebih jauh, penerapan tarif terintegrasi diharapkan memberikan dampak terhadap peningkatan penggunaan transportasi publik, pengurangan beban pengeluaran transportasi rumah tangga, serta penurunan kemacetan dan emisi kendaraan.
Integrasi layanan juga diharapkan memperkuat konektivitas kawasan Banjarbakula dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat melalui sistem mobilitas yang lebih efisien.
Inovasi ini sekaligus membuka peluang bagi pengembangan model tarif terintegrasi di daerah lain, dengan penyesuaian terhadap karakteristik wilayah, kemampuan fiskal, dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Harapan kita, masyarakat semakin percaya dan nyaman menggunakan angkutan umum. Dengan kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, operator, dan dukungan masyarakat, transportasi publik di Banjarbakula dapat berkembang menjadi layanan yang aman, nyaman, terjangkau, dan berkelanjutan,” tutup Fitri.
Melalui penguatan integrasi layanan, sistem pembayaran, dan aksesibilitas tarif, Dishub Kalsel berkomitmen mendorong transportasi publik yang semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan kawasan perkotaan yang lebih tertata dan berkelanjutan. [scw|mc]
