Bikin Resah Emak-emak, Kebijakan HET Migor Dicabut

Seorang ibu rumah tangga membeli minyak goreng di sebuah warung kelontongan khusus menjual kebutuhan pokok.

Banjarmasin, lenterabanua.com – Minyak goreng menjadi salah satu barang yang paling diidam-idamkan kaum emak-emak sekarang ini. Meski pemerintah sempat menetapkan harga eceran tertinggi (HET), barang yang satu ini ternyata malah sulit didapat.

Bacaan Lainnya

Diduga banyak yang memanfaatkan momen untuk menimbun. Dengan alasan itu, pemerintah pun akhirnya mencabut kebijakan HET dan menyerahkan kepada pengusaha. Tak pelak, harga di pasaran langsung naik menyesuaikan harga nilai keekonomian.

Pantauan di pasaran, harga minyak goreng kemasan di retail modern Rp25 ribu per liter sedangkan kemasan dua liter Rp51 ribu. Sementara di pasar tradisional, sehari pada pencabutan, barang yang satu ini masih sulit didapat, diduga pedagang masih melihat kondisi pasar. Bagaimana pendapat ibu rumah tangga mengenai pencabutan kebijakan ini.

Lina warga Beruntung Jaya, Banjarmasin Selatan ini misalnya. Meski tegas keberatan, perempuan dua putra ini mengatakan ditengah kondisi ekonomi sulit ini tetap terpaksa membeli, sebab minyak goreng termasuk salah satu kebutuhan pokok.

“Mau tak mau harus dibeli walaupun mahal,” tuturnya.

Memasuki bulan Ramadan, harga bahan pokok biasanya mengalami lonjakan. Namun ia tampaknya tak mau memikirkan hal itu, karena bisa menambah beban hidup. Lina hanya berharap pemerintah dapat memikirkan nasib masyarakat kecil.

“Alternatif paling mengubah cara masak, biasanya digoreng ganti panggang atau pepes,” tuturnya.

Kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah membuat Nia warga Jalan Veteran heran. Bagaimana tidak, kebijakan HET itu dinilai sangat bagus, karena bisa meringankan beban masyarakat kecil. Kelangkaan yang terjadi harusnya pemerintah punya cara mengantisipasi. Bukan malah mencabut kebijakan.

“Beban masyarakat sekarang makin bertambah,” ucapnya lirih.

Pasca pencabutan ini ternyata masih ada pedagang yang belum mengetahui. Ada saja pedagang yang tetap menjual dengan harga
Rp17 ribu – Rp19 ribu per liter.

Usai misalnya. Pedagang di Pasar Lama, Banjarmasin Tengah ini mengaku baru tahu setelah salah seorang pedagang lainnya yang menginformasikan perihal kenaikan tersebut. Ia masih menjual minyak goreng kemasan dua liter seharga Rp35 ribu sedangkan kemasan satu liter Rp17 ribu – Rp18 ribu tergantung merk.

“Pantesan pagi tadi baru saja buka toko semua stok diborong orang, harganya saya jual Rp35 ribu kemasan dua liter,” katanya, Kamis (18/3/2022).

Ia mengatakan sudah memesan lagi ke produsen, tapi hingga siang masih belum dikirim. “Sales minyak goreng belum beritahu harganya,” ujarnya.

Informasi dari pedagang lain, kenaikannya lumayan tinggi, kisaran Rp21 ribu – Rp23 ribu untuk kemasan satu liter. “Kalau dapat harga segitu, saya jual sekitar Rp24ribu – Rp25 ribu kemasan satu liter,” ucapnya.

Serupa disampaikan pedagang lainnya, sebut saja Ijai. Melonjaknya harga minyak goreng kemasan ini, ia pun sudah mulai berpikir akan menjual minyak goreng curah. Tingginya harga jual dipasaran membuat masyarakat memilih menggunakan minyak goreng curah.

“Kondisi ekonomi serba sulit, kebutuhan pokok naik, apalagi jelang Ramadan dan lebaran, orang banyak mencari alternatif,” ujarnya.

Ijai mengatakan, sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan HET minyak goreng, barang kebutuhan rumah tangga yang satu ini sulit didapat. Kalaupun ada, harganya tinggi. “Saya dapat harga Rp13 ribu – Rp14 ribu, jualnya Rp17 ribu – Rp19 ribu, kalau sudah dapat di agen tinggi, saya mau jual berapa lagi,” ucapnya lirih. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *