Banjarbaru – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kalsel terus memperkuat sistem pendampingan atlet, tidak hanya dari sisi latihan, tetapi juga pemulihan dan dukungan tenaga ahli.
Langkah tersebut dilakukan melalui Seksi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan dengan memfasilitasi tenaga ahli untuk mendukung kegiatan pemusatan latihan daerah (Pelatda) maupun pendampingan atlet saat menghadapi berbagai kejuaraan.
Kepala Dispora Kalsel Pebriadin Hafiz melalui Kepala Seksi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan, Zulhaidir, mengatakan saat ini pihaknya telah menyiapkan 20 terapis yang menjadi bagian dari sistem pendampingan atlet.
“Untuk saat ini kami memfasilitasi tenaga ahli yang mensupport kegiatan pemusatan latihan daerah atau pendampingan. Ada 20 terapis, kemudian ada strength and conditioning konsultan dari PPFI serta beberapa pelatih nasional yang mendampingi sejumlah cabang olahraga,” ujar Zulhaidir, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, keberadaan tenaga ahli tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi atlet, terutama ketika menjalani latihan intensif maupun pertandingan.
Terapis, misalnya, berperan dalam membantu proses pemulihan atlet setelah menjalani latihan maupun pertandingan. Sementara konsultan olahraga memberikan pendampingan kepada pelatih daerah agar program latihan dapat dilakukan secara lebih terukur.
Dispora Kalsel juga menyiapkan penguatan dukungan dengan menargetkan penambahan tenaga profesional lainnya, seperti psikolog olahraga, fisioterapis dan dokter olahraga.
“Kita berharap ke depan sport science ini bisa dilengkapi dengan psikolog olahraga, fisioterapi dan juga dokter,” jelasnya.
Zulhaidir menyebut pendampingan tenaga ahli tersebut telah dilakukan selama kurang lebih empat tahun. Pendampingan tidak hanya diberikan ketika atlet bertanding, tetapi juga sejak menjalani latihan di daerah.
Dampaknya, kata dia, mulai terlihat dari kemampuan atlet menjaga kebugaran selama mengikuti kompetisi, termasuk dalam menghadapi pertandingan multi-event maupun single-event.
“Di setiap kegiatan kejuaraan nasional mereka melakukan pendampingan, baik saat atlet latihan maupun pertandingan. Bagaimana atlet saat bertanding dan setelah bertanding bisa kembali bugar dengan dilakukan terapi. Itu kelihatan dari perolehan medali yang kita raih selama ini, baik multi-event maupun single-event,” katanya.
Saat ini, setiap single-event umumnya didampingi satu hingga dua terapis, sedangkan pada multi-event seluruh terapis dikerahkan untuk mendukung kebutuhan atlet.
Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan awal program pendampingan. Dari sebelumnya hanya dua terapis, kini Dispora Kalsel telah memiliki 20 terapis.
Meski demikian, Zulhaidir mengakui kebutuhan tenaga pendamping masih cukup besar. Terlebih, terdapat 21 cabang olahraga dalam program pemusatan latihan daerah yang membutuhkan dukungan tenaga profesional secara berkelanjutan.
Untuk tenaga dokter, idealnya diperlukan sedikitnya dua hingga empat orang. Sementara kebutuhan psikolog olahraga diperkirakan dapat mencapai enam hingga 10 orang.
Penguatan tenaga pendamping tersebut menjadi bagian dari upaya Dispora Kalsel membangun pembinaan olahraga yang tidak hanya berorientasi pada pertandingan, tetapi juga memastikan atlet memperoleh dukungan menyeluruh sejak latihan, kompetisi hingga proses pemulihan.
“Harapannya memang ada tambahan, tetapi dengan efisiensi anggaran kita memaklumi. Paling tidak kita optimalkan yang ada dulu. Kita berharap ada tambahan psikolog olahraga dan dokter ke depan kalau anggaran mencukupi,” pungkasnya. [tgh|mc]
