Mengabarkan tanpa Mengaburkan

Waspadai Keterbatasan Air dalam Penanganan Karhutla

Banjarbaru – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, mengingatkan Kalimantan Selatan untuk mewaspadai ancaman kekeringan dan keterbatasan air seiring meningkatnya indikator fenomena iklim yang berpotensi memperburuk kondisi karhutla.

Peringatan tersebut disampaikan Hanif usai mengikuti rapat koordinasi penanganan karhutla di Poslap 1 Guntung Damar, Banjarbaru, Jumat (4/9/2026) sore.

Ia menjelaskan, kondisi iklim saat ini memiliki karakter berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan indikator El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) perlu menjadi perhatian karena dapat berpengaruh terhadap ketersediaan curah hujan.

“Kalau 0,4 itu artinya benar-benar Indian Ocean Dipole-nya positif dan itu artinya jumlah hujan akan semakin sedikit untuk bisa kita modifikasi cuaca,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa operasi modifikasi cuaca saja tidak cukup dijadikan sebagai strategi utama dalam menghadapi ancaman karhutla.

“Upaya kita selama ini mengandalkan operasi modifikasi cuaca sebagai langkah penjagaan permanen ternyata dikalibrasi oleh alam masih belum lengkap,” ujarnya.

[bacajuga berdasarkan="category" mulaipos="1" judul="Baca Juga : "]

Karena itu, pemerintah daerah didorong memperkuat pengelolaan lanskap, terutama tata kelola air di kawasan yang memiliki potensi kebakaran tinggi.

Hanif menyebut, dalam rapat koordinasi terungkap adanya penurunan muka air di Karang Intan yang menjadi salah satu sumber air bagi sistem penyediaan air minum Banjarbakula. Penurunan juga terjadi pada Dam Riam Kanan.

“Terjadi penurunan muka air yang cukup signifikan di Karang Intan. Karang Intan itu suatu tempat pengambilan sumber air dari PDAM Banjarbakula. Nah, itu turun sampai 4 cm selama 10 hari. Sementara Dam Riam Kanan setiap hari tercatat turun 2,5 cm,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, lanjut Hanif, harus menjadi perhatian serius karena air memiliki dua fungsi penting, yakni untuk penanganan karhutla sekaligus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

“Kita tidak boleh lagi membandingkan masyarakat yang sudah terpapar asap kemudian air tidak ada. Ini tentu menjadi tanggung jawab kita memikirkan dengan cermat,” tegasnya.

Ia meminta jajaran terkait segera menyusun neraca air untuk memastikan ketersediaan dan prioritas pemanfaatan air, baik bagi kebutuhan penanganan karhutla maupun kebutuhan masyarakat. [fuz|mc]

Advertisements

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *