Mengabarkan tanpa Mengaburkan

Laboratorium Pemeriksa SHK, Target Skrining Bayi

Banjarmasin – Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Kalimantan Selatan turut memperkuat upaya pemerintah dalam mencegah stunting dan gangguan tumbuh kembang anak melalui pelaksanaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) pada bayi baru lahir.

Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Arlan Prabowo, mengatakan SHK menjadi salah satu langkah penting dalam mendeteksi secara dini gangguan hormon tiroid yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

“SHK ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencegah gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Dengan dilakukan skrining sejak bayi baru lahir, gangguan dapat diketahui lebih awal sehingga bisa segera ditindaklanjuti,” ujar Arlan di Banjarmasin, Selasa (1/9/2026).

Ia menjelaskan, pelaksanaan SHK dilakukan melalui pemeriksaan sampel darah bayi baru lahir untuk mengetahui kemungkinan adanya hipotiroid kongenital, yakni kondisi ketika bayi mengalami kekurangan hormon tiroid sejak lahir.

Mulai Januari 2026, Labkesda Provinsi Kalimantan Selatan ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai laboratorium pemeriksa SHK di wilayah Kalimantan Selatan.

Penunjukan tersebut menjadi bagian dari penguatan jejaring pemeriksaan SHK sekaligus meningkatkan akses deteksi dini bagi bayi baru lahir di daerah.

[bacajuga berdasarkan="category" mulaipos="1" judul="Baca Juga : "]

“Mulai awal Januari 2026, Labkesda Kalsel ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan sebagai laboratorium pemeriksa SHK. Ini menjadi tanggung jawab sekaligus komitmen kami untuk mendukung program pemerintah dalam deteksi dini gangguan tumbuh kembang,” kata Arlan.

Untuk tahun 2026, Labkesda Kalsel menargetkan pemeriksaan SHK terhadap 48.000 bayi baru lahir di Kalimantan Selatan.

Target tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan cakupan skrining sehingga semakin banyak bayi baru lahir yang mendapatkan pemeriksaan sejak dini.

“Kami menargetkan sekitar 48 ribu bayi baru lahir pada tahun 2026 dapat dilakukan pemeriksaan SHK. Harapannya, cakupan skrining ini terus meningkat sehingga tidak ada bayi yang luput dari deteksi dini,” ungkapnya.

Arlan menambahkan, keberhasilan program SHK membutuhkan dukungan dan kolaborasi seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, terutama dalam memastikan bayi baru lahir mendapatkan skrining sesuai ketentuan.

Ia juga mengajak masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki bayi baru lahir, untuk tidak mengabaikan pentingnya skrining kesehatan sejak dini.

“SHK ini merupakan bagian dari upaya kita memastikan anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Karena itu, kami mengajak fasilitas kesehatan dan masyarakat bersama-sama mendukung pelaksanaan skrining ini,” pungkas Arlan. [scw|mc]

Advertisements

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *