Banjarmasin – Sebanyak 10 sanggar dari 10 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan ambil bagian dalam Festival Karya Tari Daerah (FKTD) 2026 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel di Banjarmasin, Selasa (8/9/2026) malam.
Mengusung tema “Napas Bumi dan Laut”, festival ini menjadi ruang bagi seniman menerjemahkan hubungan manusia dengan sungai, laut, hutan, dan lingkungan ke dalam karya tari sekaligus memperkuat identitas budaya Banua.
Tema tersebut dipilih untuk mengingatkan masyarakat bahwa bumi, laut, sungai, dan hutan bukan sekadar bentang alam, tetapi juga bagian dari sejarah, ingatan, serta identitas masyarakat Kalimantan Selatan.
Kepala Disdikbud Kalsel Abdul Rahim melalui Kepala Bidang Kebudayaan Eddy Suwarto mengatakan, tema “Napas Bumi dan Laut” menjadi tantangan bagi para seniman dan penari.
Tak hanya menghadirkan pertunjukan yang estetis, tetapi juga mampu menangkap dan menerjemahkan denyut kehidupan masyarakat Banua ke dalam karya yang sarat makna.
“Melalui tema ‘Napas Bumi dan Laut’, saya berharap para seniman mampu menangkap denyut kehidupan Banua dan menerjemahkannya menjadi karya yang kuat secara artistik serta kaya akan makna. Biarlah gerak tari bercerita tentang sungai, irama menggambarkan denyut kehidupan pesisir, dan tubuh penari menyampaikan hubungan manusia dengan alam,” ujar Eddy.
Menurutnya, penyelenggaraan FKTD tidak hanya menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan kreativitas, tetapi juga membawa misi pelestarian budaya daerah.
Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Selatan kepada masyarakat luas sekaligus menjaganya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Saya yakin ajang ini mampu melahirkan karya-karya yang tidak hanya berhenti pada tepuk tangan penonton, tetapi juga memperkuat identitas serta mempromosikan kebudayaan Kalimantan Selatan agar semakin dikenal luas dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kesenian Disdikbud Provinsi Kalsel Sunjaya Adhiarso menjelaskan, FKTD 2026 diikuti 10 sanggar kesenian yang mewakili 10 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.
“Dari 13 kabupaten/kota, hanya 10 kabupaten/kota yang berpartisipasi pada ajang tahun ini. Hal ini disebabkan penerbitan petunjuk teknis (juknis) dari tingkat nasional yang dinilai terlalu mepet dan mendadak, sehingga beberapa kabupaten belum siap mengirimkan perwakilan atau mengikuti rangkaian kegiatan tahun ini,” jelasnya.
Sunjaya menambahkan, penyaji terbaik dalam FKTD 2026 akan dipersiapkan untuk mewakili Kalimantan Selatan pada ajang Parade Tari Nusantara yang dijadwalkan berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada akhir Oktober 2026.
“Penyaji terbaik akan kita kirim ke Jakarta untuk mewakili Kalsel pada Parade Tari Nusantara di TMII. Meskipun waktu persiapannya sangat pendek, kita akan berusaha memaksimalkannya sebaik mungkin sehingga dapat meraih prestasi tertinggi,” imbuhnya.
Ia berharap FKTD 2026 dapat menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas para seniman sekaligus menjadi sarana pewarisan budaya.
Setiap karya yang ditampilkan di atas panggung diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pengetahuan, pengalaman, dan identitas masyarakat Banua yang perlu dirawat serta diwariskan bersama. [jml|mc]
















Leave a Reply