Ribuan Pekerja Nganggur, AGM Rugi Rp32 Miliar. Suplai Energi Nasional Terganggu

  • Bagikan

 

 

  • Imbas Kasus Penutupan Jalan Tambang di Km 101 Kabupaten Tapin

Banjarbaru, Lenterabanua.com – PT Antang Gunung Meratus (AGM) dan PT Tapin Terminal Coal (TCT) sama-sama menggunakan jalan hauling 101 Tatakan, Tapin selama 10 tahun. Selama itu juga, tidak ada masalah. Pasalnya, perjanjian tahun 2010 itu saling mengikat dan masih berlaku.

Gambaran kerja sama itu disampaikan oleh pengacara PT AGM, Fernando Siagian dari Kantor Advokat Kailimang & Ponto saat jumpa pers di Novotel Banjarmasin Airport, Banjarbaru, Rabu (29/12/2021) siang. Menurutnya,  perjanjian Penggunaan Tanah ditandatangani pada 11 Maret 2010 atau dikenal sebagai Perjanjian 2010.

Sesuai Perjanjian 2010, para pemilik jalan khusus tambang di KM 101 Tapin, seharusnya bisa saling pakai tanah untuk jalan khusus tambang. Sengketa muncul ketika PT TCT tidak mau mengakui Perjanjian 2010 lantas berakhir dengan blokade serta diakhiri dengan police line.

Ditegaskan Siagian, pihaknya menyampaikan tiga tuntutan. Pertama, PT AGM menegaskan Perjanjian 2010 dinyatakan sah dan tetap berlaku. Kedua, Perjanjian 2010 mengikat PT TCT dan PT TCT harus tunduk pada Perjanjian 2010.

Ketiga, baik PT AGM maupun PT TCT berhak menggunakan tanah obyek perjanjian yang merupakan bagian dari jalan hauling dan underpass, sesuai perizinan yang ada.

Fernando berharap, ada solusi yang yang tepat mengatasi penutupan jalan Hauling 101 itu. Pasalnya, dampak sosial sangat besar. Sebanyak

Dampak sosial dari penutupan hauling tersebut sangat besar. Sebanyak 2400 pekerja menganggur dan ratusan truk berhenti operasi. 420 pekerja pelabuhan dan tongkang juga kehilangan pekerjaan serta 74 tongkang kehilangan pendapatan sejak 27 November 2021 silam. Tepat ketika dipasangnya garis polisi oleh Polda Kalsel.

“Analoginya, 1 pekerja minimal menghidupi 1 istri dan anak. Itulah Jumlah jiwa yang kehilangan pemasukan,” ungkap Fernando lagi.

Sebagai pengacara memohon Polda Kalsel menimbang juga dampak sosial para pekerja. Diharapkan semua kembali normal lagi siklus kegiatan para pekerja. Apalagi, dampak pandemi COVID-19 masih ada. Tentu makin menyulitkan para pekerja

Fernando menyatakan, AGM juga mengalami kerugian sebesar Rp32 miliar akibat dampak police line tersebut. Selain itu, kebutuhan suplai nasional sebesar 39 persen ikut terganggu dengan penutupan jalan tambang di Kabupaten Tapin.

“Kami mohon kepada Polda Kalsel ikut memikirkan dampak sosial yang langsung dirasakan oleh para pekerja dan para keluarga pekerja,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x