Pertama di Kalsel…! Bumdes Sejahtera Mandikapau Timur Produksi Air Dalam Kemasan 

  • Produksi : Kepala Desa mandikapau Timur H Supiani Abdullah dan Sekretaris Desa Saurillah berfoto bersama di depan ratusan kardus air minum dalam kemasan merk MKT produksi bumdes Sejahtera.

Martapura, Lenterabanua.com – Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sejahtera milik Desa Mandikapau Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan terbilang berani. Yaitu, sudah produksi air minum dalam kemasan (AMDK) dengan merek dagang MKT. Bumdes seperti ini tidak ditemui di Kalsel bahkan Kalimantan. Mampu menyerap 15 tenaga kerja lokal.

Produksi air minum kemasan MKT semakin meningkat sejak uji coba pertama pada awal 2021 lalu. Hanya menggunakan satu unit mesin. Rerata sehari 400 kardus air kemasan gelas isi 48. Harganya setiap kardusnya sekitar Rp14,500. Bulan maulid adalah puncak pesanan, produksi bahkan lebih 5 ribu kartun sebulan.

Bacaan Lainnya

Potensi atau prospek cerah usaha air minum gelas dalam kemasan milik Desa Mandikapau Timur ini yang jadi perhatian Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI (Kemendes PDTT). Disebut sebagai Desa Tanpa Kemiskinan dan Kelaparan. Lalu dijadikan contoh untuk desa lain.

Inovasi desa membangun bumdes yang melirik industri air kemasan sangat sulit. Butuh waktu dan proses panjang sebelum benar-benar jalan dan mulai produksi pada 2021 awal. Dimulai pada 2017 silam, Pambakal H Supiani Abdullah melirik usaha air kemasan karena potensi desa Mandikapau Timur memang di situ.

Apakah ide itu berjalan lancar? Jawabannya selalu tidak semulus diucapkan ketika usaha merealisasikan. Bahkan, pendamping desa tingkat kecamatan dan kabupaten sempat berbeda pendapat. Pasalnya menyangkut anggaran. Juga terkait aturan keuangan. Usaha ini belum terpikirkan. Pambakal sendiri mengaku semua serba otodidak. Walau akhirnya mendapat bapak angkat dari industri air kemasan besar yang bersedia menerjunkan tim ahlinya dengan syarat hasil AMDK untuk kesejahteraan masyarakat desa.

Proses pembangungan gedung produksi akhirnya berjalan pada 2017. Tahun selanjutnya pembelian mesin industri pembuatan air kemasan. Infrastruktur pendukung. Persiapan sumber daya manusia. Sampai pada 2021 ini telah menghabiskan Rp1,4 miliar anggaran dari dana desa sampai akhirnya berjalan. Anggaran bertahap setiap tahun anggaran itu karena dana desa Mandikapau setiap tahun hanya Rp730 juta.

“Proses yang panjang dan sangat lama adalah perizinan. Rata-rata, satu izin memerlukan 2 bulan. Karena banyak dokumen yang perlu disiapkan termasuk verifikasi lapangan,” kata Sekdes Mandikapau Timur Saurillah yang biasa disapa Isau.

Sambil produksi, ujar Saurillah masih menunggu sertifikat dari SNI. Prosesnya sudah dijalankan sambil uji coba.  AMDK merek MKT mulai dikonsumsi dan disukai pasar lokal. Tiap agenda besar keagamaan, warga setempat pasti pesan MKT. Pihaknya belum terlalu berani memasarkan akibat terkendala izin akhir yang masih ditunggu.

“Sambil menunggu sertifikat SNI terbit, kami tetap produksi untuk kebutuhan warga lokal dan sekitar.” Kata Isau.

Sedangkan Pambakal Mandikapau Timur H Supiani Abdullah menyatakan, sumber mata air untuk produksi MKT sangat berlimpah. Musim kemarau panjang tidak memengaruhi mata air yang asetnya sudah dimiliki desa. sejak 2017 – 2021, Bumdes Sejahtera ujar H Supiani hanya sekali menerima bantuan dari pusat sebesar Rp50 juta. Langsung dibelikan alat pendukung produksi.

“Kalau dicari kekurangan tentu masih ada, Bumdes Sejahtera baru punya 1 mesin di pabrik pengolahan.  Pabrik dan gudang masih jadi satu. Idealnya pengolahan dan pabrik dipisah. Kami sudah beli satu unit mesin pengolahan lagi tapi belum bisa dipasang karena keterbatasan lahan pabrik,” kata H Supiani Abdullah.

Camat Karang Intan M Ilmi menuturkan, kehadiran tim dari kementerian datang ke Mandikapau Timur adalah kesempatan untuk Bumdes Sejahtera mengusulkan suntikan data serta penjajakan potensi pasar.  Sejak bumdes ini beroperasi, mulai banyak kabupaten tetangga yang datang menjadikan Bumdes Sejahtera sebagai pusat studi. Memang pada akhirnya, tiap desa mempunyai potensi berbeda sesuai keunggulan masing-masing.

Sementara itu, Bupati Banjar H Saidi Mansyur menegaskan, air minum adalah kebutuhan setiap hari. Makin hari kebutuhan selalu meningkat. Dirinya yakin, market share air minum kemasan sangat besar. Dirinya juga memuji tentang insting tajam perangkat desa ditambah pendampingan desa yang mengawal melalui regulasi mampu . menghasilkan.

“Mandikapau Timur menuju desa mandiri, mereka sudah memiliki arus kas untuk kesejahteraan warga. Pendapatan desa dikembalikan kepada warga dengan berbagai program desa seperti membantu warga kurang beruntung, menderita sakit, serta keperluan lainnya,” pungkasnya. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *