Kisah Singkat Lorong Said Alwi Barabai (3 – Habis)

 

Ketokohan Sayyid Alwi sampai ke telinga Presiden RI Soekarno. Alhasil, saat pemimpin revolusi ini bertandang ke Barabai tahun 1955, keduanya bertemu dan berbincang hangat.

Bacaan Lainnya

Ada sebuah dialog yang didapatkan penulis dari dokumen keluarga dan dituturkan kembali Habib Abdullah. Dialog itu menggambarkan momen saat Sayyid Alwi bertemu dengan Proklamator RI di Balai Rakyat Barabai.

Sambil berjabat erat, Soekarno bertanya ”Siap Nama Bapak? tanya Soekarno kira-kira saat itu.

”Saya Sayyid Alwi,” jawabnya dengan logat Arab. Maklum saja, Sayyid Alwi dalam kehidupan sehari-hari lebih sering menggunakan bahasa Arab.

”Pak Haji Orang Arab?,” tanya Presiden Soekarno lagi. ”Iya Saya Orang Arab, lahir di Hadramaut,” kata Sayyid Alwi membalas.

“Kenapa orang membantu perjuangan Orang Indonesia?” kata Soerkarno.

”Ikhwanul Muslim, orang muslim itu bersaudara dan wajib membantu saudara,” balas Sayyid Alwi.

Mendengar pernyataan seorang tokoh disegani, Presiden senang.

Lantas ia mengucapkan. ”Nanti Sayyid ke Jakarta,” ajak Soekarno.

”Ya Batavia,” tanya Sayyid karena istilah Batavia saat itu lebih terkenal, ia pun kemudian menyebut Jakarta setelah dia dibisiki oleh Ali Basah, Wedana Barabai kala itu.

“Yakarta,” ucap Sayyid Alwi dengan lafal Arab dan menyebut “J” menjadi “Y”.

Namun menurut catatan keluarga, sampai akhir hayatnya pada tahun 1967, Sayyid Alwi tak sekalipun ke Jakarta memenuhi undangan Soekarno.

Pada acara di Balai Rakyat tersebut, Soekarno meresmikan Monumen Perjuangan di Lapangan Dwi Warna, sementara Sayyid Alwi didaulat untuk membacakan doa.

Menariknya, Sayyid Alwi juga yang diminta para perajin emas Kampung Kemasan untuk menyerahkan cinderamata pada Soekarno. Yakni sebuah miniatur tugu pahlawan dari emas.

Saat Presiden Soekarno hendak kembali ke Jakarta. Ia pun dilepas ratusan warga yang berjejer di tepi jalan.

Dalam iring-iringan itu, Soekarno naik mobil jeep terbuka. Pertemuan kedua pun terjadi. Soekarno mampir terlebih dahulu di rumah Sayyid Alwi. Kebetulan saat itu ia berbaur dengan warga di depan rumahnya dan ikut melepas kepulangan Soekarno.

“Presiden saat itu turun dari mobil dan menghampiri Habib, dia memeluk Habib-ku dan minta doakan, doakan saya Sayyid!, minta Soekarno,” kata Syarifah Talhah yang pada saat itu berusia 17 tahun, mengingat betul momen itu.

Dua tokoh yang sama-sama memiliki kharisma itu pun berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan.

Jiwa Entrepreneur secara otodidak juga terasah berkat jejaring kuat dengan beragam golongan lain. Dia salah satu pendorong dan memelopori hadir perkebunan karet dengan skala besar di Hantakan. Nama besarnya cukup dipercaya mendapat bibit berasal dari Bogor. Buah pergaulan luas dengan Pemerintah Belanda ditambah jabatannya sebagai Kapitein der Arabieren.

“Tiap karet yang diolah setengah jadi dan dijual wajib ada cap stempel ‘SAH’ kepanjangan dari namanya Said Alwi Al Habsy,” tutur Habib Asryof Al Habsy.

Bersama sobat karibnya, Pangeran Noto Igomo bernama asli Habib Muhammad bin Ali bin Hasan Bin Yahya-karena menikah dengan Aji Raden Lesminingpuri, cucu Sultan AM Sulaiman yang juga anak Sultan AM Alimuddin dari Kesultanan Kutai. Berhasil membangun Pasar Toko Batu Barabai berfungsi tempat transaksi karet.

Itulah bangunan beton perdana Barabai. saat itu Habib Muhammad ikut menyumbang batu dan semen kepada Sayyid Alwi untuk pembangunan.

Juga berjasa besar ikut membangun rumah sakit Barabai setelah sebelumnya permintaan itu diutarakannya kepada Belanda.

Demikian juga pembangunan Sanatorium Hantakan yang dahulu dokternya berasal dari Jerman. Lokasi Sanatorium bercuaca sejuk itu terletak di puncak Manggasang menghadap jurang.

Dari atas kelihatan Sungai Hantakan mengalir dari Pegunungan Meratus dan cukup efektif menyembuhkan masyarakat yang sakit TBC. Sayyid Alwi ikut aktif menyumbang pembangunan sanatarium.

Beberapa fasilitas penting yang dimintanya kepada Pemerintah Belanda bagi masyarakat adalah kantor pos, listrik. Dan tak lupa menyumbangkan tanahnya dibuat Jalan Lorong Said Alwi saat itu. Dia juga percaya, mewakafkan tanah untuk pembangunan Pasar Garuda Barabai.

Said Alwi juga dikenal banyak mengislamkan orang bukit yang rutin menginap ke rumah tiap Sabtu yang jadi hari Pasar Barabai hingga hari ini.

Di rumahnya selalu menampung orang Dayak Meratus untuk bermalam sebelum pulang ke Hantakan. Saat itu, terang Syarifah Talhah, cukup takut juga karena orang bukit datang membawa tombak dan  parang. Tapi Abah, ujarnya tetap melayani dengan baik.

Tidak terhitung orang penting pernah ke rumah, Buya Hamka, kata Talhah pernah menginap di rumah Sayyid Alwi.

Alwi juga jadi pengurus Masjid Sulaha Barabai dan menjadi imam. Sesekali ia khotbah di masjid tua terkenal tak tergenang kendati banjir besar melanda Barabai.

“Sehabis salat Asar, Habibku pasti memanggil seluruh anak-anaknya, dia biasa membacakan kitab bersama masyarakat yang hadir saat itu di rumah. Seingat saya abahnya Guru Bakhiet, Tuan Guru Haji Ahmad Mughni biasa ke rumah mendengar pengajian,” terang Syarifah Talhah.

Habib Abdullah kelahiran 1928 dan Syarfiah Talhah percaya, orang tuanya meninggal pada usia 105 tahun dan dimakamnya di Turbah Sungai Jinggah Banjarmasin sekitar tahun 1967.

Dalam keadaan sakit, terang Talhah lagi, Sayyid Alwi mengumpulkan seluruh keluarga, mulai anak, cucu, dan buyut di Banjarmasin. Setelah berdoa, Sayyid Alwi mengumumkan akan pulang (wafat,red) jam lima sore.

Saat itulah banyak keluarga, tambahnya menangis bakal kehilangan Alwi. Ia mengaku sudah puas hidup.

Ditambahkan Abdullah, saat akan wafat Sayyid Alwi, ia berusia sekitar 47 tahun. ucapan orang tuanya akan pulang jam 5 memang terbukti. Tepat jam 5 tanggal 22 Desember 1967 atau 22 Ramadhan 1348 H, Sayyid Alwi meninggal di tengah keluarga besarnya.

Keajaiban lain, pas dia menghembuskan nafas terakhir, jarum jam juga mati.

“Habib saya meninggal sekitar jam 5 sore, saat beliau meninggal, jam juga ikut mati persis di angka lima. beliau kami makamkan di Turbah Sungai Jinggah Banjarmasin bersama keluarga besarnya,” kata Abdullah Al Habsy.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *