Kisah Singkat Lorong Said Alwi Barabai (2)

  • Bagikan

 

Mengisahkan Lorong Said Alwi Barabai seperti merangkai puzzle. Cukup sulit akibat keterbatasan narasumber. Informasi yang minim. Dokumentasi yang terbatas. Tulisan ini hasil silaturahmi pada 2014 silam, saat penulis tinggal di Barabai.

Penulis mendapat cerita tentang perjalanan Sayyid Alwi dari Hadramaut, Yaman sampai ke Barabai, Kalimantan Selatan. Dikisahkan putra beliau nomor 7, Habib Abdullah (Abah Dullah), saat beliau masih hidup di usia 86 tahun. Ditambahkan oleh Syarifah Thalhah.

Sayyid Alwi berasal dari Negeri Yaman tepatnya Hadramaut – daerah yang menjadi salah satu tujuan utama santri banua untuk menuntut ilmu di luar negeri.

Merantau ke Indonesia dengan menggunakan kapal laut, jalur pelayaran dari India terus ke Singapura dan mendarat di Kalimantan Timur, Samarinda.

Di kota tepian itu, ia bertemu dengan Habib Muhammad Bin Ali Bin Yahya, sahabat karibnya dari Hadramaut yang bergelar Pangeran Noto Igomo.

Karena Habib Muhammad menikah dengan Aji Raden Lesminingpuri, cucu Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang juga anak Sultan AM Alimuddin dari Kesultanan Kutai.

Sayyid Alwi kemudian meneruskan pelayaran ke Banjarmasin. Penulis kesulitan mendapat data persis tahun kedatangan salah satu leluhur Al Habsy itu ke Banjarmasin.

Kemudian Sayyid Alwi menikah dengan Syarifah Raguan Binti Syekh Al Habsy. Setelah pernikahan itu, Sayyid Alwi diangkat menjadi Kapten Arab Banjarmasin.

Ia menggantikan kedudukan  Kapten Arab Pertama yaitu Habib Hasan bin Iderus Al Habsy atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Habib Ujung Murung. Habib Hasan diyakini hidup semasa dengan Syekh Jamaluddin Al-Banjari atau Tuan Guru Surgi Mufti.

Tugas menjadi Kapten Arab memang diberikan kepada sosok terpandang dan disegani lengkap dengan keilmuannya.

Ia diangkat secara khusus sebagai Kapitein der Arabieren oleh Belanda untuk mengepalai etnik Arab-Indonesia.

Sayyid Alwi pun aktif mengurus masalah administratif orang Arab. Tanda bintang tersemat di dada kanan jadi tanda bahwa Alwi adalah seorang Kapten Arab.

Selama di Banjarmasin, Sayyid Alwi diyakini tinggal di Kawasan Ujung Murung dan Pal 1 Banjarmasin yang dahulu dikenal sebagai perkampungan orang Arab.

Belakangan, Sayyid Alwi meletakkan jabatannya dan ia hijrah ke Barabai. Tapi ternyata, Belanda malah menjadikannya sebagai Kapten Arab yang berkedudukan di Barabai.

Kiprahnya di Barabai semakin menonjol. Dimasanya ia tidak hanya dikenal sebagai tokoh birokrat Arab, tapi juga seorang ulama, pengurus masjid Sulaha Barabai, seorang imam, khatib, pebisnis yang dermawan dan pejuang tokoh pergerakan.

Salah satu jejak aktivitas pergerakan Sayyid Alwi adalah bangunan Komplek Syarikat Islam (SI) di Jalan Brigjen Hasan Basri Barabai yang tetap berdiri hingga kini.

“Itu dahulu Habib-ku (panggilan kesayangan anaknya untuk Sayyid Alwi, Red) menukarkan tanahnya nak ai, sidin itu pemberian banar,” ujar Syarifah Thalhah, anak nomor 9 Sayyid Alwi.

Sebagai salah satu tokoh penting keberadaan SI di Barabai, Sayyid Alwi pun diketahui cukup karib dengan Pemimpin SI sekaligus pahlawan nasional Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto.

Jalan Lorong Said Alwi juga menjadi bukti kedermawanan Sayyid Alwi Al Habsy. Tanah selebar 5 meter tersebut diwakafkan untuk dibangun jalan.

Denah jalan itu bentuknya seperti huruf ‘T’. Sebelah utara bisa diakses melalui Jalan Pasar Satu. Bagian Timur bisa lewat Jalan Brigjen H Hasan Basri sedang di Utara masuk melalu Jalan Kemasan.

Jalan Lorong Said Alwi RT 6 sejatinya tidak banyak berubah. Bedanya, sekarang sudah menjadi pemukiman padat penduduk dengan deretan rumah sangat rapat.

Sebagian besar rumah berusia tua. Wajar, karena jalan ini merupakan akses jalan tembus sangat dekat dengan Pusat Bisnis Hulu Sungai Tengah, yakni Pusat Perbelanjaan Murakata atau Pasar Lama, Jalan Pasar Satu, Pasar Dua dan Pasar Tiga.

Sebenarnya, masih ada satu lagi peninggalan Sayyid Alwi, yakni sebuah rumah di muara Jalan Lorong Said Alwi dari Jalan Brigjen H Hasan Basri.

Rumah yang pernah dikunjungi Presiden RI Soekarno itu masih berdiri tegak, kendati telah berpindah tangan.

Tidak hanya itu, ternyata juga tidak ada lagi zuriat Sayyid Alwi Al Habsyi yang tinggal di lorong itu.

“Tinggal di sini paling dikenal sangat aman,” kata M Noor yang tinggal persis di belakang rumah Sayyid Alwi.

Sementara itu, sebagai seorang Kapten Arab, hampir semua kegiatan dan even penting di Barabai pada masa itu, selalu melibatkan Sayyid Alwi.

Sekadar diketahui, Barabai pada masa kolonial Belanda menjadi bagian dari Afdeling Van Hoeloe Soengai yang berkedudukan di Kandangan. Karena itulah, dalam perjuangan Sayyid Alwi memilih jalur diplomatis.

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x