Kisah Singkat Lorong Said Alwi Barabai (1)

 

Anda yang tinggal di Kota Barabai pasti tak asing dengan Jalan Lorong Said Alwi Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Bacaan Lainnya

Nama itu sejatinya diambil dari nama seorang tokoh dari kalangan Habaib yang menyandang gelar Kapten Arab atau Kaptein der Arabieren.

Sebuah foto lama mengabadikan momen ketika Presiden Soekarno menjabat erat tangan tokoh ini di tahun 1953.

Dialah Sayyid Alwi Bin Abdullah Bin Alwi Bin Syech Bin Muhammad Bin Zein Bin Achmad Al Wali Allah Bin Hasyim Al Habsy.

Kendati menyandang nama besar dengan segala jasa bagi Barabai. Ternyata, tidak seutuhnya orang Barabai mengetahui muasal dan sejarah lorong itu.

Cerita ini kembali penulis ulas. Supaya kisah dibalik sejarah lorong Said Alwi tidak hilang ditelan zaman. Pasalnya, dari 16 anak Sayyid Alwi, sebagian besar wafat.

Kisah ini juga pernah dipublikasikan saat Penulis pada 2014 lalu dibantu oleh M Noor bersilaturahmi ke rumah Habib Abdullah Al Habsy saat usianya menginjak 86 tahun.

Habib Abdullah wafat pukul 17.30 Wita pada tanggal 3 Juli 2018. Penulis juga pernah bertemu dengan  Syarifah Talhah, putri beliau yang juga tinggal di Barabai.

Keduanya tinggal di kawasan padat penduduk dan rutin kebanjiran. Hanya menempati rumah kayu yang terlihat sangat sederhana. Terjejal di antara rimbun perumahan. Terletak di gang sempit yang dikira-kira hanya cukup dilewati satu motor.

“Kalau air sungai Barabai meluap, rumah kami selalu kebanjiran,” ujar ibu Talhah, waktu itu tahun 2014 silam.

Penulis juga sempat mengunjungi buyut Sayyid Alwi yaitu Habib Asyrof Al Habsy.  Ketua Ikatan Keluarga Besar Allawiyyin Hulu Sungai Tengah ini tinggal di Kampung Kopi/Kampung Arab Barabai. Beliau bersedia jadi narasumber untuk mengungkap kisah Sayyid Alwi.

Sekadar diketahui, semasa hidupnya Sayyid Alwi Al Habsy pernah tiga kali menikah. pertama di Banjarmasin dengan Syarifah Raguan Binti Sayyid Syech Al Habsy (wafat 1964), dari perkawinan ini lahir 6 anak. Yaitu Sayyid Muhammad, Syarifah Syifa, Syarifah Noor, Syarifah Mas’ad, Sayyid Hasan dan Syarifah Rogayah, semuanya juga sudah wafat.

Kemudian pernikahan kedua terjadi di Barabai, dengan Hajjah Masrah (wafat 1977) putri H Muhammad Samman. Orang tuanya dikenal sangat kaya. Hajjah Masrah berdarah campuran Nagara Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Banua Kupang, Hulu Sungai Tengah.

Dari perkawinan ini lahir 9 orang anak, Habib Taha Al Habsy, Habib Muksin Al Habsy, Habib Idrus Al Habsy, Syarifah Zaitun, Habib Ali Al Habsy, Habib Zen Al Habsyi, Habib Abdullah Al Habsy, Syarifah Syihun dan Syarifah Talhah.

Sementara istri ketiga Sayyid Alwi adalah seorang perempuan yang berasal dari Kandangan, Hajjah Masdjam. Dan memiliki putri semata wayang yakni Syarifah Raguan. Keduanya juga telah meninggal pada 1960 dan 1974.

Penulis mendapat banyak kisah tentang Sayyid Alwi yang sempat menjabat sebagai Kapten Arab di Banjarmasin. Dalam istilah Belanda, Kapitein der Arabieren, yakni orang yang ditunjuk pemerintah Hindia Belanda untuk mengepalai etnik Arab-Indonesia. (bersambung

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *